Misa Komuni Pertama Gereja St. Anna
Jakarta – Misa Penerimaan Komuni Pertama (Komper) gelombang 1-3 pada 19, 26 Maret, dan 2 April 2022 di Gereja Santa Anna, Paroki Duren Sawit berhasil dilakukan. Misa ini diikuti oleh para peserta penerima komper, orang tua, serta keluarga yang hadir di Gereja dan daring melalui siaran youtube.
Misa Komper ini dipimpin oleh Romo Yoko pada gelombang ke-1, Romo Rudi pada gelombang ke-2, dan Romo Patmo sebagai penutup di gelombang ke-3 . Dalam khotbah di Misa Komper ada dua poin penting yang disampaikan, yaitu komuni yang akan disambut sebagai tanda cinta dan pemberian Tuhan. Kedua, komuni yang biasa diterima dalam misa, dan dalam perayaan ekaristi terjadi saling menerima dan memberi.
Tidak hanya Tuhan yang memberi tetapi juga diri kita yang memberi. Tuhan memiliki hati yang sangat tersentuh akan penderitaan orang lain.
Tuhan punya hati yang selalu berbelas kasih kepada orang. Perayaan ekaristi yang membedakan dengan perayaan lainnya adalah doa syukur agung. Setiap kali menerima komuni, kita menyambut tubuh dan darah kristus, di situ kita menerima cinta Tuhan, Tuhan yang begitu mencintai kita yang memberikan hidupnya.
Kita memiliki cinta Tuhan dalam hidup kita. Kita memiliki cinta, tetapi apakah kita tinggal dalam cinta Tuhan? Tinggal dalam cinta Tuhan perintahnya cuma satu,yaitu kasihilah satu dengan yang lain, sama seperti aku telah mengasihi yang lain.
Lalu apa kata peserta?
“Harry William (peserta penerima komper), mengutip dari wawancara dengannya, dia (Harry) deg-degan sebelum menerima komuni karena belum tau semua, setelah menerima dia merasa bahagia. Proses belajar secara daring menjadi salah satu penyebabnya mengapa ia deg-degan.”
Apa kata panitia?
“Proses pembelajaran komuni pertama berlangsung selama 4 bulan dan dilakukan secara daring. Proses belajar dilakukan daring, tapi sempat dilakukan (secara) luring dengan jumlah yang terbatas. (Lalu) karena kasus positif covid-19 meningkat, pembelajaran dilakukan daring kembali. Tantangan pembelajaran daring (adalah) daya serap anak-anak terbatas, karena mereka (para peserta penerima komper) tidak tatap muka, mereka hanya membayangkan dan berimajinasi, apalagi untuk menerima komuni, memegang hosti, dan sikap dalam menerima komuni.
“Harapannya para penerima komper lebih rajin gereja, semakin mencintai Yesus, mencintai ekaristi, bisa berbagi kasih kepada sesamanya, aktif kembali dalam kegiatan gereja baik secara online maupun offline bila sudah diizinkan”, ucap Yohana Dwi seksi katekese.