Misa Minggu sore di Gereja Santa Anna pada 13 September 2026 memiliki nuansa yang berbeda. Sekitar 15 menit sebelum misa dimulai, umat diajak berdiri untuk bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan dengan lagu-lagu rohani karismatik yang penuh semangat, dinamis, dan ekspresif. Umat diajak bernyanyi bersama paduan suara PDPKK Gereja Santa Anna.
Tema misa hari ini adalah “Diampuni untuk Mengampuni”. Kita diingatkan bahwa Tuhan sangat mengasihi kita dan selalu mau menerima serta mengampuni kita. Tuhan mau menyentuh dan mengubah hidup kita menjadi baru melalui pengampunan. Tuhan memberi teladan akan kasih yang selalu memberi, bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti.
Misa Hari Minggu Biasa ke-XXIV ini dipimpin oleh Romo Agustinus Rudy Chandra Wijaya, SJ dan diselenggarakan oleh PDPKK Gereja Santa Anna. Bacaan misa hari ini diambil dari Sirakh 28:1–9 yang berisi pesan untuk menghentikan permusuhan dan menghilangkan dendam kesumat serta amarah; Roma 14:7–9; dan Injil Matius 18:21–35 yang berisi perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasih. Bacaan Injil ini mengajarkan kita akan pentingnya mengembangkan sikap berbelas kasih dan mau mengampuni sesama tanpa batas.
Dalam homilinya, Romo Rudy menceritakan apa yang disampaikan oleh Ignasius Jonan dalam Jakarta Eucharistic Revival 2026 pada akhir Februari lalu. Ignasius Jonan mengatakan bahwa semangat Ekaristi adalah pernyataan tentang siapakah aku ini. Tiap-tiap dari kita adalah seorang pendosa yang kerap kali berbuat dosa, tetapi juga mengalami bahwa Allah terus-menerus mengasihi, mengampuni, dan memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat. Kita perlu menyadari belas kasih dan kerahiman Tuhan, serta meneladani Tuhan yang selalu berbelas kasih tanpa batas. Belas kasih dan kerahiman Tuhan menjadi sumber inspirasi kita untuk melanjutkan hidup dan mampu mengampuni sesama.
Mengampuni bukan tentang bermurah hati memberi kesempatan orang lain untuk bertobat, tetapi tentang bersyukur karena kita diberi kesempatan untuk bertobat oleh Tuhan. Kita diminta untuk mau bermurah hati memberi pengampunan, karena kita pun akan merasa gembira, lega, dan bersyukur jika menerima pengampunan dari Tuhan, sebesar apa pun kesalahan kita. Tanda bahwa kita belum bisa mengampuni adalah kita masih menyimpan sakit hati dan masih mengingat kesalahan orang yang menyakiti kita. Sakit hati membutuhkan waktu untuk sembuh dan diobati melalui pengampunan. Tetaplah berusaha melakukan hal-hal yang baik walau kita disakiti, hingga kita mampu mendoakan orang yang pernah menyakiti kita.
Romo Rudy mengakhiri homilinya dengan pesan: mohonlah rahmat Tuhan untuk menyadari bahwa kita adalah pendosa yang tetap mengalami kasih Tuhan yang mau mengampuni dosa-dosa kita. Oleh karena itu, kita pun perlu saling mengampuni. Sebelum memberi berkat penutup, Romo Rudy mengapresiasi adanya misa dengan nuansa karismatik dan berharap di lain kesempatan bisa diadakan misa dengan nuansa-nuansa lainnya. (Aprilia)
