Misa Sabtu sore, 16 Mei 2026 merupakan Minggu Paskah ke-7, Minggu Komunikasi Sedunia ke-60 dengan tema Melestarikan Suara dan Wajah Manusia, dan sekaligus Misa Syukur Tahbisan Imamat Romo Stefanus Ferriandis Harsono, Pr. yang akrab dipanggil Romo Yandis. Misa diselenggarakan secara konselebrasi dengan Romo Yandis sebagai selebran utama, lalu Romo Agustinus Rudy Chandra, SJ dan Romo Albertus Kurniadi, Pr sebagai konselebran.

Ada pun bacaan misa diambil dari Kisah Para Rasul 1 : 12 – 14, 1 Petrus 4 : 13 – 16, dan Injil Yohanes 17 : 1 – 11a. Dalam homilinya, Romo Yandis menekankan pentingnya menghadirkan wajah Kristus yang berbelas kasih. Pada Minggu Komunikasi Sedunia ke-60 ini, kita diingatkan untuk menjaga suara dan wajah manusia, yang intinya adalah menjaga martabat manusia.

Romo Yandis mengatakan, bahwa manusia saling berperang bukan hanya karena perbedaan. Persamaan juga bisa menyebabkan perpecahan. Selalu ada akar-akar perpecahan yang dimulai sejak Adam dan Hawa. Sumber perpecahan adalah iblis yang membuat manusia saling menyalahkan. Kondisi saling menyalahkan ini menimbulkan perpecahan dan ketidakharmonisan. Kita perlu mengundang Roh Kudus, roh yang mempersatukan, roh yang menuntun kita pada persatuan dan pengenalan akan Allah dan Yesus Kristus yang diutus oleh Allah. Bahasa Allah adalah kasih. Allah yang kita kenal adalah Allah yang berbelas kasih, yang mengajar kita untuk tidak saling menghakimi tapi saling mengasihi. Seperti Bunda Teresa yang melihat Yesus dalam diri orang-orang sakit dan yang tersingkir.

Romo Yandis juga mengingatkan kita untuk menggunakan media sosial dengan bijak. Janganlah kita saling memfitnah, menyakiti, dan membenci di media sosial. Kita harus mengedepankan kasih dan menggunakan bahasa yang lembut dan penuh kasih. Hal ini harus dimulai dari keluarga kita yang perlu dibiasakan untuk saling memaafkan, saling mengampuni, dan saling mengasihi. Kasih mempunyai dampak yang luas. Budayakanlah komunikasi kasih yang jujur, yang membangun persaudaraan dan harapan, serta menjaga martabat manusia. Kita harus saling menghargai dan saling mendengarkan.

Setelah homili, Romo Rudy memberikan sambutan atas tahbisan imamat Romo Yandis, yang diterima pada 29 April 2026, di Gereja Santa Maria, Cirebon. Romo Rudy mengatakan, bahwa tahbisan imamat Romo Yandis merupakan rahmat bagi seluruh umat dan Gereja, khususnya Paroki Duren Sawit. Romo Yandis adalah imam ke-9 dari Paroki Duren Sawit. Selain itu juga ada 4 suster, 1 bruder, 4 frater, dan beberapa seminaris yang berasal dari Paroki Duren Sawit. Romo Rudy berharap semoga benih-benih panggilan tetap tumbuh subur di Paroki Duren Sawit. Romo Rudy mengucapkan terima kasih kepada Ibu Kiswati, ibunda Romo Yandis, yang hadir pada misa sore ini, juga kepada keluarga dari para romo yang berasal dari Paroki Duren Sawit. Tak lupa Romo Rudy juga berterima kasih kepada panitia yang telah mempersiapkan Misa Syukur Tahbisan Imamat Romo Yandis, juga kepada seluruh umat yang mendoakan panggilan untuk menjadi biarawan, biarawati, dan imam.

Kemudian Romo Yandis menceritakan benih panggilan sudah dirasakan ketika ia dilantik sebagai misdinar di Cimacan, dengan Frater Yos Bintoro sebagai pendamping dan ketua misdinar Albertus Kurniadi, yang sore ini juga mendampinginya mempersembahkan misa. Benih panggilan itu semakin kuat saat ia mendengar Romo Damianus Ediwinarta, SJ. mengatakan bahwa Gereja Katolik masih sangat kekurangan imam. Saat Romo Yandis belajar di kelas 3 SMP, ia menyampaikan keinginannya untuk menjadi imam kepada orang tuanya. Tapi kedua orang tuanya tidak mengizinkannya. Akhirnya Romo Yandis melanjutkan pendidikannya hingga lulus dari fakultas kedokteran dan menyelesaikan PTT di Sumba, NTT. Ia pun melanjutkan pendidikannya hingga menjadi dokter spesialis anak. Namun ternyata benih panggilan itu tetap tumbuh dan keinginan untuk menjadi imam tidak dapat dipadamkan. Hingga terjadilah hal yang sangat mengharukan bagi Romo Yandis. Ibunda Romo Yandis yang dulunya seorang muslim, justru menjadi orang yang paling ikhlas dan mendukung Romo Yandis untuk menjadi seorang imam. Ini merupakan karya Tuhan yang luar biasa. Di akhir penuturannya, Romo Yandis mohon didoakan agar ia selalu setia dalam panggilan imamatnya.

Seusai misa, diadakan acara ramah tamah sebagai ucapan syukur atas tahbisan imamat Romo Yandis. Dalam acara ini ada sambutan dari perwakilan keluarga besar Romo Yandis yang mengatakan bahwa Gereja Santa Anna telah menjadi rumah rohani bagi keluarga Romo Yandis selama 36 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Ibu Kiswati, ibunda Romo Yandis, dan pemberian kenang-kenangan untuk Romo Yandis dari perwakilan Lingkungan Agnes dan Wilayah Pondok Kelapa 2 yang merupakan domisili keluarga Romo Yandis.

Deni Chandra, seorang teman Romo Yandis sejak masa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, memberikan kesaksian bahwa Romo Yandis adalah pribadi yang sangat baik hati, sangat jujur, dan sangat alim sehingga banyak teman-temannya yang kagum pada Romo Yandis. Acara ramah tamah ini dimeriahkan dengan live music oleh Mas Alwi dan teman-teman, juga para suster dan bapak ibu dari Dewan Pleno Harian yang menyumbangkan lagu dan tarian. Acara ramah tamah ini berakhir sekitar pukul 20.30 WIB. (Aprilia)