Misa Inklusi, Pelantikan Panitia Pembangunan Gedung Karya Pastoral (GKP), dan Pengumuman Pemenang Lomba Logo Paroki
Misa Inklusi di Gereja Santa Anna diselenggarakan pada Minggu, 12 April 2026, pukul 08.30 WIB. Perayaan Ekaristi ini dipersembahkan secara konselebrasi oleh Romo Agustinus Rudy Chandra Wijaya, SJ dan Romo Y.F. Chris Purba, SJ.
Misa inklusi diadakan setiap Minggu kedua setiap bulannya untuk mewujudkan Gereja yang inklusif, yang merangkul dan menghargai semua orang dari berbagai latar belakang dan kondisi. Gereja dipanggil menjadi rumah bagi semua, tanpa terkecuali dan tanpa syarat, tempat setiap pribadi dapat merasa diterima dan nyaman.
Perbedaan misa inklusi dengan misa pada umumnya terletak pada penyesuaian yang dilakukan agar lebih aksesibel, khususnya bagi umat berkebutuhan khusus. Dalam perayaan ini, tersedia Juru Bahasa Isyarat (JBI) serta pendamping khusus, sehingga umat dengan disabilitas dapat mengikuti seluruh rangkaian misa dengan lebih baik. Umat berkebutuhan khusus juga ditempatkan di bangku deretan terdepan agar dapat melihat dengan jelas penerjemahan doa, liturgi sabda, mazmur, dan lagu selama misa berlangsung.
Di akhir misa, diumumkan pemenang lomba desain logo Paroki Duren Sawit sebagai bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-54 paroki. Lomba ini dimenangkan oleh Frans David Imanuel Nahas dari Lingkungan Maria Gratia, Wilayah Duren Sawit PTB, yang berhak menerima hadiah uang tunai sebesar tiga juta rupiah. Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi atas kreativitas umat sekaligus mempererat rasa memiliki terhadap paroki.
Selain itu, dalam kesempatan yang sama juga dilaksanakan pelantikan Panitia Pembangunan Gedung Karya Pastoral (GKP). Ketua panitia, Gregorius Sutikno, menyampaikan sambutan serta penjelasan mengenai rencana pembangunan yang akan segera dilaksanakan. Ia juga mengajak seluruh umat Paroki Duren Sawit untuk berpartisipasi dan mendukung melalui doa serta keterlibatan nyata. Program “Celengan Umat” turut diperkenalkan oleh Erwin Lautan selaku Tim Penggalangan Dana sebagai salah satu bentuk partisipasi umat dalam mendukung pembangunan GKP.
Dalam homilinya, Romo Rudy bercerita tentang pengalaman imannya semasa muda, ketika ia harus berjalan sejauh ±300 km dalam waktu enam hari—tidak boleh lebih atau kurang—tanpa membawa uang maupun bekal makanan dan minuman. Ia hanya diperbolehkan meminta makanan dan minuman, tetapi tidak boleh menerima atau meminta uang.
Romo Rudy mengingat dan merasakan kerahiman Tuhan ketika berjalan mencari makan bersama temannya, almarhum Romo Bagus Aris, SJ, ketika mereka masih menjadi frater. Mereka berjalan di sekitar wilayah Pantura pada siang hari, di bawah terik matahari.
Mereka mengetuk pintu rumah milik seorang ibu, namun si ibu tidak mempunyai makanan. Ia lalu menawarkan uang kepada Romo Rudy, tetapi ditolak dengan halus karena tidak sesuai dengan ketentuan yang dijalani. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Belum seberapa jauh berjalan, mereka dikejar oleh asisten rumah tangga si ibu yang berkata, “Mas, dipanggil sama Bu Hajah.” Romo Rudy kembali ke rumah itu, dan di sana mereka diterima dengan baik serta diberi makan oleh ibu pemilik rumah.
Selama mereka bercakap-cakap, ibu tersebut menyatakan ketidakpercayaannya kepada Yesus sebagai Tuhan. Ia berkata, “Tidak mungkin Yesus disalib, tidak mungkin Yesus Tuhan. Kok enak sekali kita orang berdosa diselamatkan oleh Allah begitu saja tanpa melakukan apa pun.”
Saat mendengar itu, hati Romo Rudy justru dipenuhi sukacita karena mengalami penghiburan rohani yang sangat besar. Ia menyadari bahwa sebagai orang berdosa, justru itulah Allah yang ingin ia ikuti. Sebagai manusia berdosa, kita tidak layak atas pengorbanan-Nya yang begitu besar, namun Tuhan tetap memilih untuk mengasihi kita karena kasih-Nya yang tanpa batas.
Dalam Injil hari itu, para murid juga mengalami kerahiman yang sama. Ketika Yesus berkata, “Damai sejahtera bagi kamu,” Ia menyapa para murid yang sedang diliputi ketakutan dan penyesalan karena telah meninggalkan-Nya saat Ia ditangkap dan menderita sengsara hingga wafat di kayu salib.
Kata-kata ini menyejukkan hati dan mendamaikan. Para murid diampuni kesalahannya dan mengalami kerahiman Allah yang luar biasa.
Belas kasih Allah yang inklusif menembus batas-batas identitas duniawi. Penyelenggaraan Misa Inklusi di Gereja Santa Anna menjadi salah satu wujud nyata dari belas kasih tersebut, menghadirkan Gereja yang terbuka, menerima, dan merangkul semua orang tanpa kecuali.
Semoga melalui perayaan ini, umat semakin diteguhkan untuk membangun Gereja yang hidup, inklusif, dan penuh kasih dalam kehidupan sehari-hari. (Boy)
