Dalam dunia yang sering kali memisahkan spiritualitas dari realitas bumi, Yesus mengingatkan kita akan panggilan yang menyatu: menjadi garam yang mengawetkan dan terang yang menyinari — juga bagi bumi yang merintih. Kata-kata-Nya di bukit bukan hanya untuk jiwa kita, tetapi untuk tanah, udara, laut, dan seluruh ciptaan yang menantikan pemulihan.
Renungan ini mengajak kita merenungkan ulang makna menjadi murid Kristus di tengah krisis ekologis. Seperti garam yang harus tetap asin agar tidak dibuang, dan seperti pelita yang harus ditaruh di tempat tinggi agar tidak siasia, iman kita pun dipanggil untuk menjadi relevan, nyata, dan transformatif—dalam cara kita memperlakukan bumi, rumah bersama yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Mari kita menyelami panggilan ini dengan rendah hati: bahwa setiap tindakan kecil untuk merawat ciptaan adalah bagian dari kesaksian iman yang memuliakan Sang Pencipta. Sebab, jika iman kita tidak menjadi garam bagi bumi dan terang bagi kelestarian kehidupan, apakah kita masih layak disebut garam dan terang dunia?
Unduh dokumen lengkap Go-KiL Feb 2026
